PERAWAN BAHU LAWEHAN

Ada sebuah legenda yang menceritakan, dahulu kala seorang raja tengah mengadakan pesta perayaan ulang tahunnya. Ia mengundang semua sahabat karib dari kalangan manusia,dan Jin tanpa terkecuali. Di dalam pesta salah satu Raja Jin bernama Gadra telah jatuh cinta pada Putri raja, Dewi Citra. Gadra sadar perasaannya pada Dewi Citra bukanlah perasaan wajar, dia Jin dan Citra manusia. Namun cinta itu begitu kuat hingga membuat Gadra tak tahan membendungnya.

Suatu malam dengan kekuatan yang ia miliki, Gadra berhasil merebut hati Dewi Citra kemudian hubungan terkutuk itu pun terjadi tanpa sepengetahuan penjagaan istana yang dilengahkan Gadra.

Sehari kemudian Citra hamil namun perutnya membesar layaknya ia sedang mengandung 12 minggu. Istana gempar, Raja murka dan memutuskan persahabatannya dengan Gadra lalu mengusirnya agar tidak pernah kembali ke Istana, kemudian Raja menyuruh tabib menggugurkan janin berdarah campuran itu.

Namun Dewi Citra memohon agar buah cintanya dengan Gadra dibiarkan tetap hidup. Karena sang raja sangat menyayangi Citra ia pun menuruti puterinya..

Tepat di malam purnama seminggu setelah kehamilannya, seorang bayi perempuan cantik lahir ke dunia dengan tanda lahir berupa tanda hitam sebesar logam tembaga di bahu sebelah kiri.

Ia tumbuh menjadi gadis yang amat cantik, namun ia tetaplah anak Iblis yang dikutuk. Cucu raja hidup menderita. Setiap kali berhubungan dengan pria, pria itu akan mati. Dukun istana berkata kutukan akan berakhir jika ke-7 lelaki sudah mati karena mencintainya.

PERAWAN BAHU LAWEHAN

AUTHOR : SHIBUYA

GENRE : DRAMA, SUPRANATURAL,FIKSI,MISTERI

RATE : M (21+)

Tirai putih transparan melambai pelan seirama mengikuti arah angin yang menerobos melalui celah-celah jendela. Di dalamnya sebuah kamar dibiarkan gelap tanpa penerangan, terkesan dingin, kelam, dan sunyi.

Sinar keemasan matahari sore yang menembus melalui kaca menjadi satu-satunya sumber cahaya. Cahaya yang mengenai salah satu sisi wajah sayu sesosok wanita yang tengah menunduk muram di tepian ranjang. Tangan putihnya gemetar, mencengkeram erat dada terbungkus jilbab hitam yang ia kenakan. Kedua bahunya bergetar naik-turun diikuti sayup-sayup suara isakan yang memecah hening.

Debrina Zahra merasakan sesak memenuhi ruang di dadanya, perasaan percampuran antara hancur berkeping, marah, kehilangan, dan duka mendalam.

Lagi, ini sudah ketiga kali. Calon suaminya matimengenaskan, Hasan terseret ombak lautan, Ikhsan jatuh dari tebing gunung, tercabik binatang buas. Kini Deri tertabrak kereta, terbelahhancur, menorehkan luka di tempat yang sama.

Ia menggigit bibir bawah yang mulai terasa perih, menahan kuat-kuat isakan agar tidak menjadi jeritan, namun itu hanya menambah rasa sakit yang tak bisa lagi ia kuasai. Pertahanan itupun runtuh tanpa disadari. Debrina menjerit, menjerit sekuat mungkin meluapkan rasa sakit yang tak bisa ia gambarkan dengan sederhana.

Kerabat di luar kamar panik berdatangan ingin masuk dan melihatnya, namun tertahan pintu yang terkunci rapat, ketat, tiada akses. Permintaan untuk dibukakan pun tak diindahkan wanita yang sedang dirundung duka. Yang bisa mereka lakukan dari luaran pintu hanya memberi nasehat, kekuatan agar ia tak berbuat nekat. Jujur saja itu semua tak ada artinya bagi Debrina sekarang.

Masih lekat dalam ingatan, siang kemarin pria nahas yang dikenalkan Ayahnya pada suatu pertemuan itu datang ke rumah, mengenakan setelan mahal berwarna abu, rambut tersisir rapi menawan, dan aroma ambergris menguar dari kulit tan-nya yang maskulin. Wajahnya memancarkan senyum cemerlang luar biasa di mata Debrina, seolah memaksanya untuk terus jatuh cinta setiap hari pada pria yang sama.

Didampingi kedua orang tua dan kerabat dekat pria bernama itu Deri melamarnya.

Hari itu Debrina mengenakan setelan berwarna merah pastel mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, tak ketinggalan make-up tipis bernuansa peach natural yang membuat kecantikan alami Debrina semakin bersinar.

Pertukaran cincin dilakukan di depan kedua keluarga. Tak ada keraguan di hati si gadis cantik bermata bundar untuk menerima lamaran Deri. Ia mengangguk malu, kemudian kedua sudut bibir tipis Debrina terangkat menatapi wajah-wajah yang tersenyum lega melihatnya memakai cincin berukir nama Deri di sisi belakangnya, pertanda ia sudah diikat tak resmi oleh pria yang merasa paling beruntung itu.

Deri adalah pemuda baik, dewasa, penyabar, dan penyayang, mempunyai karir bagus di sebuah perusahaan asing, tipe ideal di kalangan wanita. Semua setuju Deri pasangan sempurna jika disandingkan dengan Debrina, seorang desainer muda yang mandiri. Wanita cantik berkulit putih bersih bak salju, jika tersenyum pipinya bersemu merah seperti buah persik. Setiap hari tubuhnya dibalut pakain besar dan tertutup bebas dari pandangan buruk, aura kedamaian saat ia berbicara selalu terpancar bagai sihir siapapun yang diajaknya berdialog. Dia juga wanita soleha yang sangat menjaga ibadah.

Kedua belah pihak-pun sudah memutuskan pernikahan akan dilaksanakan tiga minggu dari sekarang.

Setelah beberapa saat menyelesaikan sesi obrolan ramah-tamah antar kedua keluarga lantas keluarga Deri berpamitan pulang.

Tidak ada firasat buruk. Hanya Deri yang berdiri terlalu lama menatap tunangannya, membuat wanita ini salah tingkah kemudian malu-malu menegur agar tidak melakukan hal itu. Tidak, tidak apa-apa hanya saja yang Debrina tau menatap lama-lama orang yang belum halal baginya adalah sebuah dosa.

“Aku ingin melihatmu lebih lama sebelum hari pingitan ini dimulai. Hanya ingin menyimpan lebih banyak ekspresimu, lalu akan aku ingat jika rindu.” Pria itu tersenyum, Debrina tersipu dengan hati berbunga. filmbokepjepang.com Namun kegiatan merayu itu harus berakhir saat Ayah Deri mengajaknya segera pulang dan masuk ke mobil. Saat itu Debrina hanya menatap punggung Deri yang perlahan menghilang dari iris matanya dalam diam.

Satu jam kemudian kabar duka datang bagai petir yang menyambar tepat di atas kepala. Petaka yang tak ingin ia dengar. Rombongan Deri mengalami kecelakaanpemuda itu terlempar dari mobil, tubuhnya terseret kereta sejauh seratus meter terpisah-pisah mengenaskan.

Kata orang itu sengkala. Perias wisuda Debrina melihat tanda di punggungnya, Wanita itu lalu menyebar gossip bahwa Debrina wanita pembawa bencana, Deri mati karena ingin menikahinya. Gunjingan itu terus terngiang di telinga, menambah rasa nyeri bertubi dihatinya.

Debrina bangkit menghapus air mata di pipi, berjalan ke meja rias dan mematut diri di depan cermin. Di sana hanya terpantul bayangan wanita dengan tinggi sekitar 155cm, hijab lebar dan pakaian yang besar seolah menelan tubuhnya yang mungil.

‘SET!’

Dengan kasar ia menarik kerudungnya hingga terbuang ke lantai, Debrina menangis tersedu membiarkan rambut sepanjang punggung itu tergerai kusut. Kemudian dengan kasar pula mempreteli terusan beserta pakaian dalamnya hingga ia bisa melihat sendiri tubuh telanjang bulatnya di dalam cermin.

Ia amati penampilanya apa ia pantas disebut pembawa kematian untuk orang lain? ‘Hei!’ Ingin Debrina teriakkan, tidak ada hal keji yang bisa dilakukan wanita lemah, berwajah sendu, dengan kelopak mata yang membengkak, dan tubuh yang lemah di dalam cermin itu! Tapi kenapa orang-orang menyebutnya pembunuh?! Memangnya apa yang bisa dilakukan wanita yang bahkan bibirnya gemetar hanya karna menatap pantulan diri sendiri yang terlihat menyedihkan? Apa yang bisa ia lakukan untuk menyakiti orang lain?

Tangan Debrina perlahan naik menyentuh punggung kanan yang hangat lalu berbalik ke samping menghadapkan ke depan cermin, ia ingin melihat tanda yang ada pada punggungnya. Saat tangan Debrina beralih turun ke lengan ia bisa melihat sebuah tanda lahir berwarna hitam sebesar uang logam, tanda lahir yang membuatnya disebut wanita bahu lawehan.

Air mata Debrina meleleh deras, hanya karna tanda itukah dia terkutuk? Hanya dengan itukah dia bisa membunuh laki-laki tak bersalah? Jika memang iya, apa semua akan berakhir jika dia merusak tanda itu?

Lantas ia mengambil pisau cutter dari dalam laci, menempelkan di pundak benda bermata tajam namun tak punya hati itu. Ia sudah memperkirakan mungkin hanya dengan sekali sayatan dalam tanda terkutuk itu akan hilang dan tidak akan ada yang menyalahkannya lagi.

Debrina sudah tidak bisa memfungsikan otaknya dengan baik, pikirannya sudah dipenuhi segala kebuntuan, dia tak menemui jalan kecuali mati. Keberaniannya terkumpul. Meski awalnya ragu ia siap membayar nyawa menyusul ketiga calon suaminya.

Ia pun memejam disusul lelehan airmata yang mengalir di pipi, lalu menekan pisaunya.

‘Tes.’

‘BRAK!!’

“DEBRINA!!”

Di sisi luar dari balik tirai berlatarkan langit senja, bayangan hitam berdiri di sana. Kedua mata merah bersinar jahat menatap ke dalam, kemudian perlahan hilang terbawa angin.

Udara malam menembus ke dalam kamar gelap dan sunyi melalui jendela, membawa aroma primrose bersamaan dengan cahaya rembulan yang jatuh menyinari tubuh lemah yang berbaring menyamping di balik selimut cokelat.

Lelah di tubuhnya berangsur membaik setelah seharian terus menangis dan berakhir pada percobaan bunuh diri , tubuh itu hanya mengulat tatkala angin membelai rambutnya lembut, terlalu nyaman hingga ia tak mau bangun dari posisinya sekarang.

Sampai sebuah suara memanggilnya pelan.

“Debrina.”

Dalam lelap alisnya tertaut, suara itu seperti sangat ia kenali. Namun rasa lelah membuat matanya sulit dibuka walau sangat ingin.

“Debrina.”

Lagi, entah untuk yang berapa kali. Mata itu perlahan terbuka, bekas kesedihan masih nampak di sana, sayu sedikit membengkak mengurangi nilai sempurna Debrina. Namun ia tidak menemukan siapapun di sana. Hanya kamar sunyi dan suara serangga malam yang terdengar mendominasi.

“Hei.” Bahunya disentuh.

Debrina lantas terlonjak dan bangun. Jantung berdegup keras, napasnya tercekat tatkala melihat sosok Deri sudah duduk di pinggir ranjang. Ia tatapi sosok itu tak percaya, Deri yang sehat tanpa kekurangan satu apapun.

“D-deri?”

Deri menatap Debrina heran, seolah bertanya apa yang salah?

“Deri?” Debrina menyentuh pipi Deri, kulit itu terasa hangat pertanda laki-laki hidup. Air matanya meleleh, betapa ia bersyukur sudah bangun dari mimpi buruk. Mimpi di mana Deri mati mengenaskan.

“Kau mimpi buruk?” Deri menyentuh kepala Debrina mengelus pelan. Gadis itu mengangguk ragu. Lantas Deri memeluknya. “Ceritakan padaku apa yang terjadi, jangan takut aku di sini.”

Hangat…Deri tidak pernah memeluknya selama ini karena Debrina menghindari sentuhan dengan laki-laki yang belum haknya. Tapi kali ini berbeda, ia sangat takut jika melihat kenyataan bahwa calon suaminya mati lagi.

“Aku… aku bermimpi,” Kata Debrina gemetar. “Kau meninggalkanku. Kau mati. Me-mengenaskan.” Namun ia lega saat mendengar jantung Deri yang masih berdenyut tenang.

“Hm? Mengenaskan?” Gumam Deri tidak percaya. “Seperti apa?”

“Kau tertabrak kereta.”

“Itu memang mengerikan. Apa kau sangat sedih jika aku benar-benar mati?”

Debrina mengeratkan pelukan. “Tentu saja, tentu saja. Aku mungkin tidak bisa hidup tanpa Deri, aku takut hidup sendiri tanpamu.”

“Aku pun tidak mau jika pergi tanpa Debrina. Lantas bagaimana jika mulai sekarang kita pergi bersama?”

Debrina mengernyit. “Pergi ke mana? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Memang aku akan pergi tinggal bersamamu.”

“Tidak Debrina, aku sendirian. Aku kesepian di rumah baruku.”

“Rumah baru?” Mendadak Debrina merasakan kejanggalan, jantung Deri berhenti berdenyut, tubuh yang ia peluk terasa dingin.

Ragu Debrina mengangkat wajah untuk menatap Deri. Pria itu menatap kosong ke depan, wajahnya pucat. “De-deri?” Debrina menelan ludah, beringsut mundur, perasaan takut tiba-tiba menyelimuti, itu bukan Derinya.

Di dalam kepalanya seolah ada alarm yang memerintahkan untuk segera pergi. Namun sebelum ia benar-benar pergi sosok itu menoleh cepat ke arahnya.

“HIYAAAAA!!!!”

Debrina menjerit ketakutan, yang ia lihat bukan Deri yang ia kenal. Melainkan sosok Deri yang lain, wajah buruk rupa menyeramkan, bahkan seumur hidup baru kali ini Debrina melihat wajah seburuk itu.

“Temani aku Debrina.” Sosok Deri bicara, kemudian bangkit mendekati Debrina, menambah kengerian yang ia rasakan.

“Tidaaaak! Tidaaaak…!! Pergi! Kau bukan Deri! Bukan!” Debrina histeris memejamkan mata, tangannya menghalau makhluk yang ingin menyentuhnya.

“Aku kesepian, temani aku.” Seolah tuli makhluk seram tersebut mendekat, mengulurkan tangan menyentuhnya.

“KYAAAAAAA!!!”

“Debrina! Debrina! Bangun sayang, ini ummi.”

“Umii…ummi..” Debrina yang terbangun dan melompat memeluk Ibunya. Mimpi barusan benar-benar seperti kenyataan.

“Tenang sayang, Ummi ada di sini untukmu. Kau aman.” Wanita itu memeluk penuh sayang kepada putri satu-satunya yang ia miliki. Ia usap rambut basah itu menenangkan.

“Deri marah padaku ummi…dia ingin Debrina ikut, tapi dia bukan Deri yang kukenal. Debrina takut ummi…”

“Sssst… tidak apa-apa, kau baik-baik saja. Deri sudah tenang di surga. Itu cuma mimpi sayang.” Debrina mengangguk di pelukan Ibunya. “Sekarang kita berdoa, ummi temani.” Sekali lagi Debrina mengangguk patuh.

Satu minggu kemudian

Debrina bersiap pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama tantenya. Ia memutuskan untuk mengembangkan bisnis pakaian yang ia geluti di ibu kota. Ayahnya sempat menolak kepergiannya, namun dengan berbagai pertimbangan iapun diijinkan pergi.

Bagi Debrina ini adalah salah satu jalan agar ia bangkit dari penyesalan atas kematian ketiga calon suaminya. Ia ingin menyibukan diri dengan berbisnis di kota lain menghabiskan waktu untuk bekerja, karena baginya kampung halaman ini hanya berisi kenangan buruk.

Setelah beberapa saat Debrina selesai dengan segala persiapannya ke Jakarta. Ia pun berangkat ke terminal diantar kedua orang tuanya. Namun mereka tidak menunggu sampai Debrina pergi karena kebetulan mereka harus menghadiri pengajian di salah satu rumah tetangga.

Kau tidak apa-apa kan sendirian? Tanya Abih.

Debrina mengerucutkan bibir merajuk Debrina bukan anak kecil lagi.

Abih dan ummi-nya tersenyum Tapi bagi orag tua anak tetaplah bayi mereka. tambah Ummi.

Aaah UmmmiiiDebrina sayang Ummi dan Abih. Mereka pun saling memeluk untuk berpisah.

Baiklah sepertinya sudah hampir telat, kami harus berangkat. Jangan khawatir nanti Abih dan Ummi berjanji akan datang ke Jakarta untuk menengokmu, lagipula bis akan datang sekitar 10 menit lagi kan? Abi menimpali.

Debrina mengangguk manja. Lalu untuk kesekian kali mereka saling memeluk sampai kedua orang tuanya benar-benar pergi meninggalkan gadis itu berdiri sendirian di kursi ruang tunggu.

30 menit berlalu dari keberangkatan bis yang dijadwalkan, namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda transportasi umum itu akan tiba. Sabar Debrina mencoba membuang waktu dengan membaca buku tentang wanita dan Hijab yang dibawa dari rumah.

Satu jam telah berlalu, beberapa kali ia melihat jadwal keberangkatan yang tercetak di tiket yang ia selipkan di bawah buku, lalu mencoba lebih bersabar lagi dengan meneruskan bacaannya.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.20. Dua jam sudah ia menunggu, sebentar lagi gelap dan terminal hampir kehilangan sebagian besar orang yang bergantung padanya. Pedangang asongan sudah jarang, beberapa bahkan sudah membawa keranjang kosong. Mungkin ia akan menunggu lagi sampai maghrib, jika tak datang juga ia akan menunda keberangkatannya esok hari.

Di tengah kegelisahan tiba-tiba saja sebuah tepukan mendarat di pundak, Debrina kaget lalu menoleh tepat kepada seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.

“Salam.” Orang itu tersenyum ramah, seorang laki-laki berwajah manis sedang menggendong ransel di punggungnya. Namun Debrina yang tak biasa menatap wajah lawan jenis lama-lama hanya tersenyum lalu menunduk sopan.

“Maaf aku bukan orang jahat. Kalau boleh tau apa kau sedang menunggu bis Kencana jurusan Jakarta?” Tanyanya.

Debrina mengangkat wajah menatap lelaki itu curiga. “Ba-bagaimana kau tau?

Si pria memberi jawaban melalui matanya yang tertuju pada selembar tiket di tangan Debrina. Debrina tersenyum canggung karena sudah memberi respon ketus.

“Ah. I-iya betul.”

“Wah kebetulan sekali kita satu jurusan, aku sudah datang sore tadi tapi kata petugas terminal bis mengalami kerusakan dan tidak bisa diberangkatkan ke Jakarta. Ada pun penggantinya nanti tengah malam.”

“Loh ta-tapi kenapa tidak ada pemberitahuan?”

“Ada , nah di sebelah sana.” Tunjuk pemuda itu di salah satu papan pengumuman terminal.

Debrina menepuk dahi. “Astaga kenapa aku tidak melihatnya. Kalau begitu terima kasih, kalau kau tidak memberitahuku mungkin aku bisa di sini sampai malam. Debrina berdiri menyampirkan tas di pundak dan mengambil jaket bersiap pergi. Sebaiknya aku segera pulang.”

“Eh maaf,” pemuda itu menghentikan Debrina. Debrina menatapnya sekilas lalu mengalihkan pada dada bidang pemuda itu sebagai gantinya.

A-ada apa?

“Mmbegini, aku punya dua tiket. Tadinya aku berencana pergi dengan seorang teman, tapi tiba-tiba dia membatalkan keberangkatan. Kebetulan tujuan kita sama, bagaimana kalau kau pakai saja tiket ini daripada terbuang percuma.”

Eh? Debrina memiringkan kepala ragu, ia tampak menimbang-nimbang tawaran pemuda itu. Sedang memperhitungkan kerugian dan keuntungan yang akan ia dapat jika menerima atau menolak.

“Lagipula ini keberangkatan paling cepat dibanding bis lain. Bagaimana? Apa-ka,” belum sempat menyelesaikan kalimat perhatiannya teralih ke luar terminal. Sebuah bis berwarna biru jurusan Jogja-Jakarta memasuki pelataran. “Ah itu dia datang. Bagaimana, kau pergi atau?”

“Jakarta…jakarta…jakarta…” teriak kondektur yang menurunkan beberapa penumpang. Ayo cepat masuk jurusan Jakarta. Lanjut sang kondektur membuat Debrina tertekan di antara dua pilihan. Dia ingin pergi, namun tidak dengan lelaki mencurigakan ini. Bukan apa-apa itu hanya bentuk proteksi diri.

Mesin kembali berderu tanda bis akan segera meneruskan perjalanan. Pemuda itu melihatnya kemudian beralih ke Debrina. “Baiklah sebaiknya aku pergi. Bis akan segera berangkat.” Dengan sopan pemuda itu pergi meninggalkan Debrina dan mengejar bis yang mulai berjalan pelan.

Arah mata Debrina mengikuti gerakan si pria, dan saat itu juga Debrina bisa membuat keputusan. Dia akan pergi sekarang.

“TUNGGU!!” dia sedikit berteriak. Pemuda itu menoleh dan berhenti kemudian berlari ke Debrina.

“Aku bawakan kopermu.” Katanya. Debrina mengangguk kemudian ikut berlari kecil di belakang pemuda itu.

Setelah berlari kecil mereka berhasil masuk ke dalam bis yang sudah dipenuhi penumpang, Debrina tampak lega, itu artinya dia tidak perlu terlalu takut berada di kendaraan umum di malam hari dengan laki-laki asing.

Mereka duduk berdampingan, Debrina di dekat jendela sesuai nomor tiket. Hal yang membuat ia kurang nyaman. Pemuda tersebut sempat menyadari kekhawatiran Debrina, lantas menjanjikan akan berpindah tempat jika menemukan wanita lain yang mau bertukar dengannya. Debrina mengatakan itu tidak perlu.

“Oh iya,” kata Debrina seperti mengingat sesuatu kemudian mengorek isi tas dan mengambil sejumlah uang dan disodorkan ke pemuda itu. “Ini untuk mengganti tiketnya.”

Pemuda itu tampak canggung namun kemudian menerima beberapa lembar ratusan ribu itu. “Ah terima kasih.” Sebenarnya dia ikhlas saja walaupun tidak diganti, tapi pasti gadis di dekatnya ini akan mencurigainya yang bukan-bukan.

“Seharusnya aku yang berterima kasih.”

“Tidak masalah.”

Mereka saling tersenyum dan berbasa-basi sedikit sampai akhirnya lelaki itu meminta ijin untuk tidur karena kecapaian.

Setelahnnya tidak ada obrolan lain. perjalanan berjalan lancar meski Debrina hampir tidak tidur karena takut terjadi sesuatu hal yang tak ia inginkan. Bagaimanapun lelaki di sebelahnya ini adalah orang asing, setiap kali ia hampir terlelap Debrina bangun hanya untuk sekedar melirik pria yang belum sempat memperkenalkan namanya itu.

Pukul 5.45 Bis yang ditumpangi Debrina memasuki pelataran terminal, ia pun membereskan tas dan selimut yang sejak semalam menutup dan melindungi tubuhnya, selain dari udara dingin juga dari mata penumpang lain. Sementara pemuda itu masih tertidur dengan nyamannya sejak semalaman, Debrina berpikir pemuda ini benar-benar kelelahan.

Namun bis telah berhenti, penumpang lain bangun dan keluar satu persatu meninggalkan Bis. Mau tak mau Debrina harus membangunkan lelaki yang telah menolongnya jika ingin lewat. “Permisi? Ki- kita sudah sampai.” Ia menepuk pelan bahu pemuda tersebut. Pemuda itu menggeliat sebentar lalu mengucek mata dan sedikit kaget waktu yang pertama kali dilihatnya adalah bidadari.

“Eh.”

“Kita sudah tiba di Jakarta.” Ulang Debrina. Sedangkan lelaki itu masih mencoba mengumpulkan ingatan, sesaat ia ingat semuanya.

“Ah astaga… aku belum membereskan bawaanku.” Ujarnya celingungkan, lalu menyadari Debrina ingin segera keluar lantas ia memiringkan kaki memberi Debrina akses keluar. “Silahkan.”

“Kalau begitu aku pergi, tanteku sudah menunggu di pintu terminal. Terima kasih banyak atas bantuannya.” Ucap Debrina sedikit membungkuk, setelah pemuda itu mengucapkan perpisahan Debrina pun pergi meninggalkan bis berjalan menuju pintu keluar menyeret kopernya.

Namun ada hal yang mengganjal di hati saat meninggalkan pemuda itu, seperti ada sesuatu yang terlupakan.

Debrina pun mendadak berhenti dan menepuk dahinya sendiri, lupa menanyakan nama pemuda itu.

Suasana di rumah ini tidak berubah sama sekali. Rumah tua yang sudah dipugar beberapa kali agar mempertahankan keasliannya meski beberapa material sudah tidak lagi terbuat dari kayu murni.

Ruang tamunya juga masih menggunakan kursi gambangan yang lama hanya ditambah busa di atas permukaannya. Tembok juga masih dari kayu yang dipelitur kinclong bak keramik beserta hiasan-hiasan klasik bernuansa Jogja.

Rumah yang dulu ditinggali nenek Debrina beserta anak-anaknya ini terlihat kuno namun terkesan mahal dan artistik di jaman sekarang. Sepertinya tante Shalma benar-benar ingin mempertahankan suasana kampung halaman di kota besar ini.

“Sebaiknya kau pakai kamar Bilqis saja Deb. “Soalnya toilet kamar Ibumu mampet.” Wanita berusia sekitar 47 tahun bernama Shalma itu berkata, seraya menyerahkan kunci kamar lucu bergantung Doraemon.

“Itu tidak masalah tante.” Debrina setuju dan menerima kunci. Kebetulan Bilqis sepupunya sedang kuliah di Belanda dan hanya pulang ketika libur panjang. Sementara tante Shalma tinggal sendiri karena dia seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya dan belum menikah lagi. Rencana Debrina untuk sementara akan memasarkan produk hijab di butik tante Shalma sekaligus menemani tantenya itu agar tidak kesepian.

“Sebaiknya kau mandi lalu kita makan bersama. Tante tunggu di meja makan.” Lanjut wanita itu.

Debrina mengagguk patuh, lalu masuk ke dalam kamar sepupunya bernuansa biru bertema Doraemon kesukaan Bilqis.

Setelah meletakkan tas dan bawaan ia bergegas mandi air hangat menghilangkan rasa lelah yang menggelayuti badan. Beberapa saat kemudian ia kembali dan bersiap-siap menyusul tantenya yang sudah menunggu.

Saat memasang jilbab di depan cermin ia terkejut tiba-tiba dari jendela bertirai putih melintas bayangan seseorang.

Jendela itu bertepatan dengan taman belakang berpagar, tidak mungkin ada orang lain yang bebas berlarian di sana sedangkan penghuni rumah hanya mereka berdua, dan ia bisa mendengar tantenya sedang menyiapkan makanan di meja.

Penasaran Debrina memberanikan diri membuka jendela, dari sana Debrina mencium bau aneh yang belum pernah ia hirup, bau itu berasal dari kepulan asap tipis yang terbang melayang dibawa angin.

Entah asap apa, seketika aura horor mulai menyelimuti sekitar. Namun rasa penasaran itu belum terbayar jika Debrina belum melihat yang sebenarnya.

Penasaran ia melongok keluar jendela, kanan-kiri tak menemukan apapun. Tapi tiba-tiba ia mempunyai perasaan aneh, seperti ada yang datang dan berdiri di sampingnya. Dada Debrina berdegup keras, matanya bergerak gelisah. Ia memejamkan mata memberi kekuatan diri seraya berdoa dalam hati agar mahkluk semenyeramkan apapun yang akan dia lihat, tidak akan membuatnya pingsan.

Debrina menengok cepat. Kontan saja ia membeku, sesosok menyeramkan berpakaian serba hitam, kumis tebal dengan rambut yang memutih dan mata yang dikelilingi tanda hitam, makhluk itu membawa semacam cobek yang mengeluarkan asap berbau tidak sedap berdiri di sana.

“KYAAAAAAHH!!!” Debrina kaget setengah mati, ia lari ketakutan ke luar kamar. Hal itu membuat tantenya kaget, “Sayang… kau kenapa?”

Masih mencoba menetralkan napas yang berat tantenya memberi minum. Debrina menerima kemudian setelah tenang ia bercerita.

“A-aku…aku melihat penampakan hantu tante…”

“Hantu??” Wanita itu tak percaya. “Puluhan tahun tante tinggal di sini tidak pernah ada hantu.”

“Tapi tante…aku melihatnya!”

“Hantu berwujud apa?” Tanya tantenya masih tak percaya.

Sejenak Debrina mencoba mengingat-ingat, hantu itu berpakaian serba hitam, matanya hitam menyeramkan. Dan saat itu pandangannya teralih pada sosok lain yang berada di belakang tante Shalma membuat Debrina membelak sesak.

Hantu itu berada tepat di belakang tantenya. Tangan Debrina terangkat pelan menunjuk tepat di belakang “I-itu…iituu…”

Tante Shalma menoleh ke belakang dan ia-pun berjingkat kaget. “Astaga!!” Debrina astaga… hampir saja jantungku lepas.”Beliau bukan hantu. Ini Kakek Wongso.” Terang tante Debrina lega

Debrina melongo mencerna semua, namun perlahan jantungnya berdetak normal mengetahui sosok itu bukanlah hantu.

“Ini Kakek Wongso, paranormal kenalan tante.” Lanjut wanita berambut ikal itu menjelaskan.

Debrina tak habis pikir di jaman modern ini tantenya masih percaya paranormal, untuk apa?

“Ya sudah tante akan mengantar kakek Wongso sampai depan. Kau lebih baik makan nanti tante menyusul.”

Debrina mengangguk. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu takut-takut ia menatap kakek Wongso yang menatapnya tajam.

Sebuah mobil terparkir di halaman butik besar bertuliskan ‘La Amore’, Debrina dan tantenya keluar dari sana kemudian memasuki butik.

Beberapa karyawan membungkuk memberi hormat kepada wanita cantik yang menjadi bos di tempat itu, yang hanya dibalas anggukan ramah.

Sejak beberapa kali Debrina berkunjung ke butik baju-baju pesta dan pakaian pengantin itu, baru kali ini butik terlihat sepi. Jika biasanya ia melihat banyak pasangan mencari baju pernikahan, gadis-gadis muda penyuka pesta,dan ibu-ibu pejabat kali ini hanya sekitar delapan-sepuluh pengunjung tak lebih.

Jadi ini yang membuat tantenya nekat mengambil jasa seorang paranormal? Bedasarkan cerita yang dituturkan pada Debrina tempat ini sengaja dibuat sepi oleh beberapa saingan.

Butik baru di pertigaan jalan menjadi salah satu terduga kecurangan. Setidaknya itu kemungkinan yang dikatakan manager butik.

Debrina ingin tau manager macam apa yang meracuni tantenya untuk percaya hal seperti ini hingga mendatangkan paranormal.

“Jadi tante percaya butik sepi karena ulah dukun?” Tanya Debrina berharap tantenya tidak jatuh terlalu dalam pada kemusyrikan. “Apa tante sudah cek semua? Koleksi tante, pelayanan karyawan tante dan-“

“Debrina tante lebih tau soal itu,” liriknya memberi tanda bahwa ia tak butuh ceramah. “Bukannya tante tidak percaya pada Tuhan, tapi tante sudah berdoa sekuat tante, namun tidak dikabulkan. Dan setelah kakek Wongso bertindak pelanggan kembali walau belum maksimal.”

“Sebut Tuhan tantee…” kilah Debrina.

“Ah kau ini,” tante memutar bola mata mengabaikan. “Oh ada sesuatu yang ingin tante katakan padamu.” Lanjutnya menghentikan langkah.

Debrina mengangguk siap mendengar.

“Jadi kemarin kakek Wongso mengatakan sesuatu padaku, dia bicara tentangmu. Ada yang gawat.” Tatap tante serius.

“Gawat? Maksud tante?” Debrina membalas tak kalah serius.

Mata tantenya melirik kanan-kiri memastikan tak ada penguping. “Kata kakek Wongso ada aura hitam pekat tak kasat mata menyelimutimu, pagar ghaib yang mementalkanmu dari setiap jodoh yang datang.” Katanya kau ini perawan bahu lawehan. Yang berarti…” Wanita enerjik itu menghentikan kalimatnya, ia tidak tega melihat Debrina yang memucat, tak ingin membuat keponakannya sedih karena ia pun tahu Debrina baru saja berduka.

“Ah-ah lupakan,” tangannya mengibas. “Meski orang tua itu bisa membantumu sebaiknya jangan. Aku tidak setuju jika kau mengikuti jalanku menjadi umat tipis iman. Tante lebih senang jika kau hanya percaya Tuhan.” Lanjutnya kembali melangkah.

Debrina mengangguk pelan, ia pun setuju dan selalu berpikir positif, kalaupun aura hitam itu benar-benar ada ia yakin akan segera hilang jika ia lebih banyak beribadah.

“Good afternoon Mrs. Shalma,” keheningan antara tante dan keponakan itu dicairkan oleh suara seseorang. Kedua wanita itu kompak menoleh ke sumber suara.

“Ah Gasta!” Sumringah tante Shalma menyapa pemuda tampan berstelean necis bernama Gasta. Sedangkan Debrina melongo melihat pemuda yang sama sekali tak asing sedang berdiri di depannya, begitu juga dengan pemuda itu.

Dan keduanya pun saling bertatap.

“Hai.”Gasta semangat melihat Debrina.

“Ka-kau kan??”

“Loh kalian sudah kenal??” Selidik tante Shalma.

“Ah itu tante…”

“Kebetulan kemarin kami satu bis waktu datang ke sini.” Terang Gasta membantu Debrina yang masih terlihat shock. Jadi ini keponakan yang mrs.Shalma ceritakan?

Aha betul sekali.

Keduanya saling membalas senyum tak percaya, mereka tidak pernah menyangka akan dipertemukan lagi. Ini seperti mimpi, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Namaku Regasta Abinanda. Gasta menyodorkan tangannya, canggung Debrina membalas jabatan itu.

De-debrina mazea.

Ah nama yang indah. Kau tau aku tidak bisa tidur semalaman karena belum mengetahui namamu? Kupikir kita tidak akan bertemu lagi. Kata Gasta sok tampan.

Debrina melirik tantenya dan tersenyum malu.

Jadi ceritanya kau sedang jatuh cinta pada pandangan pertama? goda tante Shalma yang merasa keberadaannya seolah ditiadakan oleh kedua pemuda ini.

Yah kalau kita sama-sama sendiri itu bukan masalah kan mrs?Gasta nyengir menggaruk kepala sambil melirik Debrina.

Yaya tante pikir kalian cocok. Sebentar lagi di sini akan ada yang cinta lokasi. goda tante Shalma.

Maksud tante? Debrina bersuara.

Ya maksud tante kau dan Gasta, karena mulai sekarang kalian akan setiap hari bertemu. Dia manager toko terbaik yang pernah tante miliki , Mendengarnya Gasta menampik itu terlalu berlebihan. Sedangkan Debrina be- oh- ria dalam hati mengetahui orang ini yang membuat tantenya menyekutukan Tuhan?

Lalu Gasta mulai hari ini Debrina akan memasarkan produknya di toko ini jadi mohon bantuannya ya.

Berbeda dengan Debrina tanggapan Gasta justru antusias, pemuda itu senang punya banyak kesempatan bersama gadis secantik Debrina.

“Sorry maam?”

Obrolan hangat mereka harus berhenti saat seorang pegawai datang dengan sopan. Mereka bertiga menoleh. “Iya, Nuri ada apa?” Tanya tante Shalma

“Ada klien atas nama Mr.Agam ingin bertemu.”

“Oh baiklah kami memang sudah ada janji, setelah mengatakannya Nuri mengangguk pergi. Kalau begitu Gasta tolong temani Debrina keliling.” Pinta tante Shalma yang diiyakan kedua pemuda itu.

Satu bulan kemudian

Jarum jam besar di dinding menunjukan angka 09.15. Hari masih terlalu pagi untuk makan cokelat dan bersantai. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini Debrina sering sekali menemukan makanan berbatang segitiga itu di mejanya, dan yang lebih lucu selain pita mini untuk hiasan setiap hari terselip selembar kertas berisi kalimat lucu yang membuatnya tidak bisa menahan senyum.

Seperti hari ini kertas itu berbunyi “Ketika hidup memberiku seratus alasan untuk menangis, Debrina sih datang membawa seribu alasan untuk tersenyum.” Matanya-pun melirik pemuda yang tengah nyengir di luar kaca ruangannya. Seolah sengaja membiarkan Debrina berbunga-bunga sendrian ia kembali sibuk mengarahkan bawahannya menata display kebaya.

Sejak mereka berjumpa kembali di butik dan terbiasa bekerja bersama, Gasta memang sering menunjukkan ketertarikannya pada Debrina. Berbeda dengan ketiga calon Debrina yang sudah tiada mereka lebih kalem, sholeh, bahkan merayu Debrina hampir tidak pernah dilakukan karna itu tabu. Sedangkan Gasta adalah tipe yang tidak pernah Debrina bayangkan. artikelbokep.com Dia seorang pemuda periang, penuh energi, dan kadang kekanakan. Gasta juga pernah bercerita bahwa dia adalah penggemar Tokusatsu, bagi awam seperti Debrina hanya anak kecil yang menggilai pahlawan super dan robot. Tapi entah Debrina merasa Gasta menarik, seperti ada variasi lain dalam kehidupan asmaranya.

Asmara? Debrina menutup wajah cepat-cepat, sambil menggumam tidak mungkin dia tertarik dengan pemuda yang bahkan tidak pernah beribadah itu? Tapi jika itu benar, mungkin Debrina akan mengajarinya nanti setelah mereka menikah.

Menikah? Kali ini pipi Debrina memerah, bisa-bisanya dia memikirkan hal seperti itu. Cepat-cepat dia menyembunyikan wajah di atas kedua lengan yang ia taruh di meja. Tak lama ia memutar kepalanya ke samping, matanya berkedip pelan menatap hamparan bunga di taman dari balik tembok kaca. Wajah Debrina tiba-tiba murung teringat tragedi yang menimpa ketiga calon suaminya. Akankah hal itu akan terjadi juga kepada Gasta kalau pemuda itu berniat menikahinya?

Debrina tidak mau. Benar, sebelum perasaan mereka jatuh terlalu dalam mungkin Debrina harus mengambil sikap tegas untuk dirinya sendiri.

“Permisi miss Debrina?”

“Ah.” Debrina terkejut bangun dari meja dan mendapati Nuri sudah berada di depannya.

“Maaf miss, Mr. Agam dari butik In Style sudah datang dan sudah saya persilahkan masuk ke ruangan madam.” Kata Nuri sopan.

“Baik terima kasih aku akan segera menemuinya.” Jawab Debrina. Karyawan itu mengangguk lalu pergi.

Debrina menghela napas, dia hampir lupa hari ini ada janji dengan pengusaha muda rekan tantenya ini. Meski begitu ia harus berterima kasih kepada tante Shalma yang iseng menawari produk muslimah Debrina pada Agam yang notabene pengusaha itu hanya memfokuskan produk berupa gaun-gaun mewah.

Ah tantenya itu memang pandai merayu orang sampai bos butik terkenal Korea seperti Agam tertarik ingin lebih tau tentang baju muslimahnya. Dan hari ini mereka akan membicarakan tentang produk Debrina yang direncanakan akan dipasarkan di Negeri ginseng itu.

Setelah merapikan jilbab besar berwarna tosca yang dipakainya Debrina lantas bergegas menemui seseorang yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung. Hanya melihat sekilas waktu ia datang menemui tante Shalma waktu beberapa kali.

Debrina tersenyum pada seorang pemuda berbadan tinggi saat memasuki ruangan milik tante Shalma, pemuda itu berdiri dan menyambut tangan Debrina yang lebih dulu terulur untuk bersalaman.

“Debrina Mazea.” Katanya memeperkenalkan diri.

“Kim-Agam.” Jawab pemuda itu.

Dengan isyarat Debrina mempersilahkan Agam kembali duduk. Debrina sempat berpikir pria berperawakan tinggi ini asli berdarah Korea, kulit putih bersih, mata sipit bersinar tajam. Ya sekilas mirip aktor Drama yang sering diceritakan Santi salah satu teman di kampung, dia berharap pria ini lancar berbahasa Indonesia.

“Jadi langsung saja Nona Debrina, apa yang kau tawarkan?” Tanya orang itu terkesan dingin tanpa basa-basi.

Menerima pertanyaan yang menurutnya agak sedikit kasar membuat Debrina gugup. “E…eh…jadi konsep pakaian yang saya tawarkan adalah pakain pesta muslimah sederhana, bersahaja dengan warna-warna lembut dan minim pernak-pernik yang terkesan berle-b.”

“Kau pikir itu akan menarik di Korea?” Potong Agam tanpa menunjukan keramahan sama sekali.

“I-itu…” Debrina tak bisa memastikan.

“Apa kau pernah dengar Korea adalah kiblat mode nomor satu di Asia? Aku sendiri tidak yakin muslim di sana menyukai desain baju yang biasa.” Kata pria itu meremehkan.

Debrina menelan ludah, mati kutu. “Ah…anda boleh melihat dulu koleksi yang saya punya.” Tapi ia tidak menyerah Debrina mengambil katalog yang sudah ia siapkan di atas meja lalu menyerahkan pada Agam.

Pemuda itu dengan cool membukanya, satu lembar-dua lembar. Matanya tampak meneliti beberapa detil model yang terpampang di sana. Sementara Debrina menggosok telapak yang mulai dingin disertai jantung yang berdegup sambil sesekali menjawab pertanyaan Agam. Ini mengingatkannya pada suasana ujian kelulusan.

Tanpa sepengetahuan mereka dari luar Gasta melipat tangan di dada, sedang menatap keduanya dari balik tembok kaca dengan kedua alis tertaut. Mungkin lelaki itu cemburu.

Sadar sedang diamati Agam menoleh, membalas tajam tatapan itu sebentar, seolah itu bukan sesuatu yang penting ia beralih ke Debrina sambil menutup katalog dan melemparnya di meja.

‘PLUK’

“Kurasa cukup.” Katanya kemudian berdiri mengancingkan kembali jas abunya, mengindikasikan ia akan segera pergi. “Akan aku hubungi lagi nanti.”

“Eh.” Debrina menyusul berdiri dari tempat duduknya dengan wajah bingung, hanya seperti itu? padahal masih banyak yang ingin ia promosikan. Tapi Debrina rasa itu tidak perlu, kemudian dia hanya sedikit membungkuk dan berbisik “Te-trima kasih.” Lalu membiarkan pria kasar itu pergi.

Dari balik kaca ruangan Debrina menghela napas lega, ekor matanya mengikuti Agam yang berjalan meninggalkan toko. Debrina sempat berpikir mungkin lebih baik jika pemuda angkuh itu tidak usah menerima produknya, itu akan sangat repot jika dia harus bekerja sama dengan pria irit bicara itu.

“Debrina aku melamarmu. Aku ingin kita menikah.”

Jantung Debrina mendadak ingin melompat keluar. Pagi itu di ruangannya seorang pemuda berlutut di bawah dengan cincin berkilauan yang sedang disodorkan padanya. Lelaki itu tidak sedang bercanda, ia melihat raut keseriusan terlukis di wajah Regasta Abinanda, pemuda yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Dekat karena mereka satu pekerjaan, juga dekat karena sebenarnya mereka saling tertarik.

Seharusnya itu menjadi hal membahagiakan saat seorang yang kau sukai memintamu untuk hidup bersama. Tapi tidak bagi Debrina, pengalaman tragis membuatnya harus menahan kebahagiaan itu. Dia tidak mau membiarkan Gasta celaka karenanya. Karena kata orang ia gadis pembawa maut, percaya atau tidak dia memilih untuk tidak mengambil resiko.

“Gasta, hentikan.” Lirihnya pelan menahan sesak. Ia sungguh tak tega menolak pemuda itu. “A-aku tidak bisa…”

Gasta terkejut. Ia bangkit menatap Debrina yang tak mau membalas tatapannya. “Aku menyukaimu, bahkan sejak pertama kita bertemu. Aku tau meski aku bukan pemuda sholeh tapi aku akan belajar.”

“Bukan itu masalahnya Gasta, aku tidak mau kau terluka, aku tidak ma-“

“Mungkin klise, tapi ini benar.” Gasta menginterupsi. “Hidup dan mati hanya Tuhan yang berhak menentukan, kau tau itu. Dan aku tidak percaya kutukan. Yang aku tau kau anugerah.” Katanya menyakinkan Debrina.

Gasta pernah mendengar cerita dari tante Shalma bahkan dari Debrina sendiri tentang kematian ketiga calon suaminya yang disebabkan oleh kutukan yang dibawa Debrina. Namun Gasta tidak percaya, setidaknya dia tidak ingin ditolak Debrina hanya karena mitos konyol tak masuk akal itu.

“A-aku pikir tidak Gasta, sudah cukup aku terluka dan membuat orang lain terluka. Aku hanya ingin kau hidup, itu saja. Tidak apa-apa jika aku tidak menjadi istrimu, tidak apa-apa jika kau menikah dengan wanita lain.” Jawab Debrina putus asa.

“Debrina aku mohon.” Pinta Gasta memelas, ia tidak peduli harga dirinya. “Aku tau sebenarnya kau tidak percaya pada mitos.” Debrina menunduk sedih. “Hei… ayolah, kalaupun takdirku pergi saat sudah memilikimu aku tidak akan menyesal. Kau boleh tidak menikah saat nanti aku benar-benar mati.”

“….” debrina terdiam menggigit bibir.

“Debrina…” pinta Gasta menunggu jawaban. Wanita itu masih memantapkan hatinya, banyak pertimbangan, banyak sekali. Tapi ia juga menginginkan Gasta, tanpa disadari Debrina sudah jatuh cinta pada Gasta.

“Percayalah Debrina, aku tidak akan mati karenamu.” Gasta masih berusaha, sampai akhirnya gadis itu mengangguk.

“Iya? Kamu mau?” Tanya Gasta yang siap bersorak. Debrina kembali mengangguk.

“Yosssshaaaa!! Kita akan menikah!!” Teriak Gasta bahagia, ia angkat tubuh mungil itu dan membawanya berputar membuat khimar Debrina berkibar. Wanita itu tertawa dan sesekali berteriak agar Gasta menurunkannya.

“Jadi anda bersedia memasarkan produk saya di Korea?” Tanya Debrina pada pemuda yang minggu lalu membuat jantungnya berdegub gugup.

Pria itu mengangguk, “Aku akan memilih beberapa model saja, aku rasa tidak buruk mengambil produkmu untuk kalangan menengah kebawah.” Jawab Agam.

Debrina merasa sedikit kecewa karena produknya tidak seistimewa yang ia pikirkan. Namun tidak masalah selama produk itu bisa dipasarkan di banyak tempat bahkan di korea.

Di tengah obrolan itu tiba-tiba ponsel Agam berdering, ia pun menjawab. “Halo.”

Sementara di tempat lain, “Hahaha aku hampir tidak percaya.” Gasta yang berada di mobil tampak sedang bicara dengan seseorang di ponsel dengan semburat bahagia. “Aku sangat bersyukur lamaranku diterima, ah iya tentu saja, kami akan segera me-” belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba sebuah bayangan hitam menabrak keras kaca depan mobilnya.

‘BRAK!’

Pemuda itu terkejut mendadak kehilangan pengelihatan, panik memutar setir ke kanan, namun kehilangan keseimbangan dan dikejutkan oleh sebuah pohon besar yang sudah ada di depannya. Gasta berteriak tak sempat menghindar dan mobil pun menabrak pohon.

‘Ciiiiiitttt…. BRAK!!!’

‘Tiiiiiiiin….’ Lalu hanya suara klakson melengking yang tertindih kepala Gasta menggema ke penjuru jalan raya. Sementara ia merasa tidak mampu lagi bergerak. Darah segar mengaliri wajahnya, turun membashi setir menetes di karpet mobil. Dan setelah itu ia hanya mendengar orang-orang mulai berdatangan.

‘Degh.’ Debrina menghentikan tangan di atas kertas yang hampir ia tanda tangani. Sebuah dokumen berisi kontrak dengan Agam. Tiba-tiba saja ia mempunyai perasaan buruk.

Melihatnya Agam mengerutkan dahi. “Ada apa? Apa kau berubah pikiran?” Tanyanya.

Debrina menelan ludah melirik Agam membuang perasaan buruknya. “T-tidak.” Ia menggeleng samar lalu kembali meneruskan tanda tangan yang sempat tertunda. Ia pun mengesahkan bukti kerja samanya dengan Agam.

“Silahkan.” Debrina membiarkan Agam memeriksa lagi dokumennya. Tapi ketukan kasar dari pintu kaca disusul masuknya seorang wanita muda tanpa permisi membuatnya menoleh. Nuri datang tergopoh dengan wajah panik.

“Non Debrina! Mr. Gasta kecelakaan keadaannya gawat!”

“Gasta?” Debrina berdiri, jantungnya terasa berhenti, wajahnya memucat dan seketika ia tidak bisa berpikir apa-apa, kepalanya pusing terasa berputar-putar. Airmata menggenang di pelupuk mata. Ia ingin segera berlari menemui Gasta. Tapi tiba-tiba tubuhnya limbung.

‘Bukh.’ Debrina jatuh. Beruntung dengan sigap pemuda yang sedari tadi bersikap dingin itu menahan tubuhnya dalam dekapan kedua tangan yang besar.

Mata bertemu mata sebelum akhirnya Debrina memejam dengan air mata mengalir di pelipis kehilangan kesadaran.

Embusan hawa dingin menerpa permukaan kulit dengan selang infus yang tertancap, bau obat-obatan, anti septik beserta Alkohol mencampuri udara. Debrina membuka mata lemah, yang pertama kali ia lihat adalah atap berwarna putih bersih.

“Non Debrina kau sudah sadar?”

Ia menoleh ke sumber suara, wanita berseragam putih dibalut blazzer hitam dan rok span senada, yang ternyata Nuri salah satu pegawai tante Shalma sedang menemaninya.

Rumah sakit. Debrina sedikit mengingat kenapa ia bisa sampai di rawat di rumah sakit ini? Padahal seingatnya ia sedang membicarakan bisnis dengan Agam.

Tiba-tiba ia duduk dengan wajah panik setelah sadar, “Gasta?!” Ia ingat tentang Gasta, lalu menatap Nuri berharap mendapat jawaban. “Nuri…?”

“Mr. Gasta baik-baik saja, dia berhasil melewati masa kritis dan sekarang sudah sadar.

“Kalau begitu kau bisa mengantarku ke sana?” Nuri mengangguk dan membantu Debrina turun dari tempat tidur.

Setelah melewati beberapa blok Debrina sampai di depan sebuah kamar rawat bertuliskan nama Gasta. Nuri menunggu di luar membiarkan Debrina masuk sendiri.

Debrina membuka pintu tak sabar, dan betapa ia merasa begitu bersalah melihat Gasta memejam tak berdaya di tempat tidur dengan kepala penuh perban. Tapi jauh dari itu semua Debrina benar-benar sangat bersyukur masih bisa melihat Gasta bernapas.

Merasakan ada hawa seseorang yang datang, Gasta membuka mata kemudian nyengir lemah saat melihat kekasihnya. Sedangkan Debrina berlari kecil menghambur ke tempat Gasta berada.

“Dasar pembohong,” Ucap Debrina kesal, Gasta menyipit. “Kau bilang akan berhati-hati!” Rajuknya menangis lucu.

Pemuda itu terkekeh lemah, “Hei Bukankah aku tidak apa-apa?” Tangannya terulur menghapus air mata Debrina.”

“Tidak. Kau terluka dan hampir mati! Kau pasti sekarang percaya kutukan itu ada?” Ucap Debrina serius.

Gasta menggenggam tangan Debrina. “Hei, sudah aku bilang ini bukan salahmu. Apapun yang terjadi ini bukan karenamu. Sudah berapa kali aku katakan? Hidup atau matiku Tuhan yang menentukan.” Yakin Gasta membuat Debrina sedikit luluh.

“Lagipula ini hanya luka kecil, seorang pria tanpa bekas luka bukan pria sejati.”

Debrina mencubit lengan kiri Gasta dengan wajah merajuk. “Pokoknya kau tidak boleh mati.” Gasta gemas. Seharusnya Debrina bercermin saat membuat ekspresi seperti itu.

“Aku janji tidak akan terluka lagi.” Ucap Gasta mengusap-usap pipi halus Debrina.

Berbeda dengan apa yang ada di benak Gasta, bagi Debrina ini adalah peringatan dari makhluk itu bahwa Gasta tak lagi aman. Dia harus memastikan maut tidak lagi mendekati Gasta bahkan merenggutnya. Tidak kali ini!

Malam berkabut menghembuskan udara dingin, bulan tertutup awan gelap, suara anjing menyalak-nyalak agresif seolah menyalaki apapun yang mereka lihat.

Debrina berdiri di depan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Meski terletak tidak jauh dari rumah warga namun kanan kiri rumah itu dikelilingi banyak pohon besar. Kesan mistis langsung ia rasakan saat menginjakkan kaki di atas rumput halaman rumah tersebut.

Ia sempat akan mengetuk pintu namun seseorang sudah terlebih dahulu membukanya.

‘Kriiett.”

“Nak Debrina?” Debrina terkejut dan hampir melompat begitu melihat sosok yang dikenalnya berdiri di depan pintu.

“Ah…ma-maaf kek.” Debrina menunduk takut.

“Tidak apa-apa, mari masuk.” Kata orang tua tersebut, kakek Wongso mempersilahkan Debrina masuk.

Debrina ragu, dia tahu Tuhan yang disembahnya tidak akan memaafkan dosa besar ini. Namun ini mendesak. Bukan karena ia tidak percaya kekuatan Tuhan, tapi hanya berpikir logis. Seringkali apa yang diminta dalam doa tak selalu terkabul dengan mudah, meskipun terkabul kadang memerlukan waktu terlalu lama. Ia takut tak punya kesempatan mencegah kematian Gasta. Debrina tidak mau kehilangan Gasta. Seolah ia tidak percaya lagi bahwa hidup seseorang sudah diatur ia akan memaksakan kehendak agar Gasta tidak mati, bahkan takdir Tuhan akan ia lawan demi kehidupan Gasta.

“Jadi bagaimana?” Tanya Wongso yang menemui Debrina di ruang tamunya. Tidak seseram yang ia bayangkan, rumah itu normal khas perumahan kuno, hanya aroma menyan dan minyak perdukunan saja yang membedakan dari rumah normal.

Gugup Debrina menggosokan kedua tangannya sambil menunduk. “S-saya ingin meminta ba-bantuan kakek, tante bilang kakek bisa membantuku menghilangkan kutukan bahu lawehan? Ta-tapi tolong rahasiakan dari siapapun.”

Laki-laki berpakaian serba hitam itu manggut-manggut. “Semua bisa diusahakan. Tapi ada syarat yang harus kau penuhi untuk itu.”

“Apa yang harus saya lakukan kek?” Tanya Debrina. Lalu orang tua itu mendekatkan kepala dan membisiki Debrina sesuatu. Debrina tampak melebarkan mata mendengarnya. Ia menunduk menelan ludah setelah Wongso mundur sesudah mengatakan syarat yang harus Debrina penuhi.

“Itu semua tergantung padamu Debrina.”

Sejenak Debrina berpikir. Syarat itu memang terlalu berat, dimana ia harus merelakan kesuciannya untuk seorang laki-laki yang mempunyai kelahiran tanggal 6 juni 1989 bertepatan dengan malam selasa kliwon. Dikatakan lelaki ini memiliki kekuatan mistis alami yang bisa menetralkan pagar ghaib Debrina.

Masalah tidak hanya terletak pada ritual penuh dosa besar itu, tapi juga Debrina tak tahu di mana harus menemukan laki-laki tersebut? Kalaupun ia menemukan bagaimana kalau ternyata suami orang? Bagaimana kalau lelaki itu punya penyakit menular? Sungguh ini membuat kepalanya berdenyut. Ia berharap lelaki itu adalah Gasta, namun Debrina tau kekasihnya lahir tanggal 12 mei 1990.

“Jika kau sanggup, kita akan mulai ritual pembersihanmu malam Jumat ini. Kau bisa mencari lelaki itu setelahnya. Jangan takut, kakek hanya ingin membantumu.”

Debrina mengangguk. Ia sudah memikirkan segala resiko yang akan ia terima sebelum datang ke sini. Apapun. Semua demi Gasta bahkan Tuhanpun akan ia sekutukan. Mungkin setan di neraka sedang bersorak hari ini melihat satu lagi manusia suci jatuh ke dalam kubangan dosa.

Sinar bulan menerangi malam, aroma segar pepohonan yang dibawa angin. Debrina duduk di kursi tanpa sandaran dengan setelan gamis berwarna hitam, di depannya sebuah kuali berisi kembang tujuh rupa beraroma wangi campuran bunga dan minyak ghaib sedang dimantrai seorang kakek yang berpakaian serba hitam.

Malam ini adalah ritual mandi kembang tujuh rupa untuk Debrina. Ia sangat bersyukur prosesi ini Wongso mengijinkannya memakai pakain lengkap.

“Sudah siap?” Tanya lelaki tua itu mengambil satu gayung batok kelapa berisi air bunga. Debrina mengangguk, setelahnya air dingin membasahi kepala Debrina. Ia menggigit bibir bawah saat siraman demi siraman membasahi seluruh tubuhnya. Dingin.

Prosesi selanjutnya kakek Wongso membuka sedikit punggung Debrina yang tertutup gamis hanya untuk menyentuh tanda hitam itu.

“Ini akan terasa sakit, tahan untuk beberapa saat.” Pintanya, kemudian orang tua itu terdengar membaca mantra yang Debrina tak mengerti.

Perlahan ia rasakan panas mulai menjalar sekitar punggung. Rasa panas itu semakin kuat seperti bara api yang sengaja ditempelkan di punggungnya.

“Aaah… panas kek. Uuhh…panas..” Debrina menggigit bibir. Lama kelamaan ia menjerit-jerit, mengejang menahan sakit yang luar biasa. Jika saja tidak ditahan kuat oleh Wongso mungkin dia sudah terjatuh.

Pelan paranormal Wongso memindahkan tangannya dari punggung Debrina. Ia amati tanda lahir yang tadi berwarna hitam berubah memerah, lalu perlahan tampak samar sebuah bentuk ular melingkar di dalamnya yang menandai Debrina benar-benar perawan lawehan.

Rasa sakit perlahan menghilang dari punggung, ia sudah bisa duduk mandiri lalu membenarkan kembali baju dan penutup kepalanya setelah Wongso mengintruksikan bahwa prosesi sudah selesai.

Debrina tersenyum senang dengan tubuh yang basah kuyup. Baginya tinggal satu langkah lagi kutukan itu akan berakhir dan ia bisa segera menikah dengan Gasta.

Debrina tampak serius di depan macbooknya, ia terlihat hanya membuka kemudian menutup profil facebook teman-teman yang ia kenali lalu mendengus putus asa. Debrina mencari sesuatu yang tak juga diketemukan ; seorang pria yang lahir di tanggal 6 bulan 6 dan tahun 1986 selasa kliwon.

Mata Debrina mengantung kebiruan karena kegiatan itu ia lakukan sudah lebih dari seminggu lamanya, lembur setiap hari, lupa makan, bahkan ia mulai melupakan ibadah yang dulu selalu ia jaga. Seolah itu bukan lagi hal yang besar, ia hanya terpaku pada keberhasilannya dengan Gasta.

“Debrina kau belum makan siang lagi?” Buru-buru Debrina menutup tab facebook dan beralih pada sketsa baju yang belum selesai saat Gasta tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.

“A-aku makan siang nanti.” Jawabnya gugup. Saat itu Gasta mendekat mengambil posisi di belakang Debrina yang dipisahkan sandaran sofa besar. Pria itu ingin tahu sampai mana pekerjaan calon istrinya.

“Jika dia terus-terusan membuatmu menderita begini aku yang akan bicara padanya.” Kata Gasta merujuk pada Agam yang meminta Debrina mendesain beberapa model baju untuk koleksi musim dingin bulan depan.

Debrina menoleh “Jangan! Cita-citaku adalah menjadi desainer ternama, walaupun itu masih jauh setidaknya Agam memberiku kesempatan untuk memperkenalkan karyaku di Korea. Walau beberapa kali desainku ditolak aku akan berusaha.”

Gasta mendengus lelah mendengar jawaban Debrina. “Orang itu memang cerewet dan bermulut pedas ya sampai membuatmu tertekan seperti itu.” Ia berdiri, berjalan di salah satu meja dan menuang teh panas dari dalam teko. “Sebaiknya kau memutuskan kontrakmu dengannya. Aku akan mencarikan distributor lain.” Lanjutnya sambil menyesap cairan yang mengeluarkan kepulan asap tipis itu.

“Kenapa?” Tanya Debrina tidak puas.

“Aku punya firasat buruk tentangnya.”

“Apa itu tanda kau cemburu?” Debrina tersenyum mengejek.

Gasta meletakakan teh dan berjalan di belakang Debrina, ia merendahkan tubuhnya dan menyamakan tinggi dengan Debrina yang duduk sampai bisa menghirup aroma Debrina yang manis. “Sudah kubilang firasat buruk tentangnya,” bisik Gasta di samping Debrina, “Terlebih lagi akhir-akhir ini berada di dekatmu terasa semakin nyaman. Aku hanya tidak mau Agam brengsek itu lama kelamaan akan merasa nyaman juga.”

“Hei! Kenapa kau bicara kasar tentangnya?”

“Semua desainer di kota ini siapa yang tak mengenal orang arogan itu? Bahkan miss Shalma sempat dibuat putus asa saat menawarkan produknya selama satu tahun ini dan baru disetujui beberapa bulan lalu.”

“Oh ya?”

“Ya, dan melihatmu yang bahkan belum genap tiga bulan dikenalnya si brengsek itu menerimamu begitu saja. Bukankah aku patut curiga?”

“Curiga soal apa?”

Gasta sedikit tergagap.”Aa…curiga dia tertrik padamu.”

“Jadi?” Desak Debrina dengan raut yang sedikit mengejek. Ia tau Gasta sedang cemburu.

“Aku cemburu itu saja.” Akhirnya kata-kata itu muncul dan membuat Debrina tersenyum puas. “Haaah kelihatannya kau puas sekali.”

“Tidaaak.aku hanya senang, senang karena kau takut kehilanganku.”

“Ah Debrina kau ini.” Gasta mengacak iseng jilbab Debrina.

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Gasta duduk menikmati kopinya, sedangkan Debrina sibuk memikirkan tentang laki-laki itu dan mencari pembenaran atas apa yang dia lakukan, apakah harus menghentikan semua ini atau tetap berusaha?

“Eh Gasta, apa kau mengenal kakek Wongso?” Tanya Debrina tiba-tiba.

Gasta melirik Debrina dari balik cangkir yang masih mengepulkan asap tipis. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan orang itu?”

“Ah tidak. Aku hanya ingin tau kenapa tante Shalma menggunakan jasa paranormal untuk menarik pelanggan.” Jawabnya.

Gasta tampak diam sejenak, meletakkan cangkir di meja. “Aku hanya hanya sekedar kenal saja,beberapa rekanku menggunakan jasanya.” Kalau soal kenapa mrs.Shalma menggunakan jasa paranormal, kurasa karena dia sedang berusaha memperjuangkan usahanya.”

“Bukankah seharusnya tante meminta bantuan Tuhan?” Jawab Debrina.

“Sudah, aku pikir sudah. Tapi mrs Shalma sadar bahwa hanya dengan berdoa saja itu tidak cukup. Karena untuk mendapatkan sesuatu, kau harus mengorbankan sesuatu. Kau tau semua yang bisa diwujudkan hanya dengan sebaris doa itu cuma ada di dalam cerita dongeng.”

Debrina terdiam meresapi perkataan Gasta. Dia juga dalam posisi itu, ia sudah berdoa kepada Tuhan untuk melindungi Gasta namun ternyata lelaki itu pernah cekala karenanya. Jadi Debrina rasa langkah mempercayai paranormal bukanlah hal yang salah. Mereka cuma perantara istimewa yang bisa mengabulkan permintaan itu lebih mudah.

“Ah sepertinya aku lapar, dan kau juga harus makan, bagaimana kalau kita masak spaghetti instan?” Ajak Gasta.

“Tentu saja.” Debrina mengangguk, mungkin saat ini makan bersama Gasta bisa menghilangkan sedikit tekanan yang ia rasakan.

Di pantry beberapa karyawan sedang makan siang, tersenyum sungkan melihat kedatangan Gasta dan Debrina. Setelah menyapa mereka Gasta meminta Debrina duduk dan menunggu di kursi yang masih kosong. Gasta menjanjikan akan membuatkannya spaghetii spesial.

Mengikuti permintaan Gasta, Debrina membiarkan Gasta memanaskan air di dalam panci. Ia menunggu sambil memainkan ponselnya mencari pria pelengkap syarat ritualnya.

Di tempatnya Gasta membuka lemari penyimpanan mengambil dua bungkus spaghetti instan. Ia mengeluarkan isi dan memasukannya ke panci setelah air mendidih. Tangan kirinya memengang ganggang panci, tangan kanannya sibuk mengaduk spaghetti yang mulai matang.

Namun tiba-tiba saja dari arah jendela kaca di depannya bayangan hitam secepat kilat menembus dan menabrak wajah Gasta, ia reflek menghalau makhluk itu dengan panci berisi air panas tapi malah mencelakainya. Air panas menyiram wajah dan tubuh Gasta sendiri.

‘BRRRAAANG!”

Panci terlempar mengejutkan semua orang. Disusul teriakan Gasta yang terjatuh menutupi wajahnya yang terbakar.

“Aaarghhh panas…”

“Gasta!” Melihat kekasihnya celaka Debrina panik. Ia berlari mendekati Gasta yang berguling, berteriak kepanasan.

“Siapapun kumohon panggilkan petugas medis!” Dan sekarang pun Debrina berpikir ini adalah kutukan yang disebabkan olehnya.

‘Klek’

‘Kriieet…’

Pintu kamar terbuka. Dengan tas kecil menggantung di bahu Debrina berjalan lesu memasuki kamar, tatapannya kosong. Setelah menutup pintu ia menjatuhkan diri di kasur menatap lurus ke atap yg berwarna putih.

Ia menghela napas lelah namun lega. Lelah karena ia benar-benar kurang istirahat, dan lega karena luka bakar Gasta tidak parah. Kata Dokter itu keajaiban, tersiram air bersuhu tinggi tapi hanya memerah. Debrina tidak terlalu peduli yang penting Gasta baik-baik saja, bahkan pemuda itu bisa mengantarnya pulang seperti biasa setelah diberi obat.

Namun ia jadi teringat pengakuan Gasta setelah ia paksa untuk jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi. Gasta mengaku melihat bayangan hitam sebelum ia tersiram air panas, bayangan yang sama saat ia kecelakaan bulan lalu.

Gasta meminta Debrina untuk tidak terlalu memikirkannya karena bisa jadi itu hanya halusinasi Gasta yang kadang terlalu lelah mengurus toko sekaligus toko accesoris miliknya yang akan segera dibuka minggu ini. Tapi Debrina tetap berpikir ini ada hubungan dengannya, jika dibiarkan akan terus mencelakai Gasta. Nyawa orang itu sangat berharga dibanding karirnya sekalipun.

Ngomong-ngomomg soal karir Debrina jadi teringat desain yang harus dikirimkan Gasta malam ini juga. Ia melonjak bangun dan buru-buru menyalakan macbook dan membuka lembar kerjanya. Tampak sebuah desain gamis berwarna merah dengan ornamen sederhana di bagian dada, menurutnya itu sudah cukup dan siap dikirim ke email Agam.

Kegiatan itu dilakukan secepat mungkin, hanya dengan suara ‘Klik.klik.klik’ mendominasi, tapi hanya tinggal menekan send ia lupa Email Agam. Debrina berdecak kemudian mengambil berkas kerja samanya dengan pemuda itu dari dalam tas kerja.

‘Srek.’

‘Srek.’

Ia tampak serius memilah-milah, kepalanya bergerak ke kiri kanan membaca cepat.

‘Srek.’

Namun dia berhenti pada lembar berikut, matannya terbelalak dan mulutnya membulat tak percaya melihat lembaran kertas berisi profile Agam mengandung angka-angka yang tak asing.

“I-ini?” Bisiknya tak percaya. 6 juni 1989 Angka-angka itu, angka kelahiran lelaki istimewa yang akan menyelamatkan Gasta.

Debrina menutup mulut, dadanya berdegub tak beraturan, ia mengecek internet mencocokan weton Agam. Seketika hasil pencarian menemukan hasil yang membuatnya ingin meloncat gembira. ‘Selasa kliwon.’

Debrina memeluk erat dirinya sendiri seolah memberi selamat dengan wajah bahagia. Akhirnya dia menemukan laki-laki itu, dan yang lebih hebat dia mengenalnya.

Tapi senyum sirna saat mengingat siapa laki-laki itu. Dia Kim Agam, orang paling dingin yang pernah ia temui. Debrina mendadak frustasi memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan Agam.

Tapi kemudian dia mendapatkan ide. Cepat-cepat Debrina bangkit melesat ke kamar mandi, ia akan pergi menemui Agam malam ini juga.

Debrina berdiri menatap gedung tinggi apartemen mewah berkaca besar yang tampak seperti balok-balok bercahaya dari seberang jalan.

Salah satu jendela kaca itu adalah kamar milik Agam, tempat di mana penyelamat kekasihnya tinggal. Dan untuk menyelesaikan misi ia harus masuk ke dalam bukan hanya sekedar membahas bisnis, namun untuk melakukan hal yang tak bermoral.

Setelah beberapa kali menimbang ia putuskan untuk melangkah, mendatangi kamar pemuda sesuai instruksi yang diberikan pemiliknya. Sepanjang jalan Debrina masih terus memikirkan apa yang akan ia lakukan, apa merayunya? Mengatakan yang sesungguhnya? Atau apa? Sampai tak terasa ia telah sampai di depan kamar yang dimaksud.

Jantung Debrina berdetak keras, ia menggigiti kuku-kukunya meredam perasaan panik yang belum ia kuasai sedikitpun. Agam memang sudah mengijinkannya datang malam ini dengan alasan Debrina ingin menunjukkan desainnya secara langsung. Tapi setelah itu bahkan tidak tahu bagaimana membuat Agam agar mau bercinta dengannya?

Ia eratkan genggaman di tas laptopnya, menarik napas dan mengembuskan kasar, setelah itu ia memencet bel yang langsung mengeluarkan bunyi nyaring di ruangan Agam.

Tak lama pintu terbuka membuat jantung wanita di luar itu berdetak lebih cepat, disusul sesosok pemuda berpakaian santai yang tak asing untuknya.

“Masuklah.” Dan dengan suaranya yang begitu jantan ia mempersilahkan Debrina yang masih mematung.

Debrina mengangguk lalu mengekori Agam memasuki ruangan yang temaram. Saat pertama kali masuk Debrina sedikit takjub oleh interior yang serba putih gading serta berwarna emas. Perabotan antik dan mahal. Seolah menegaskan Agam adalah lelaki berkelas yang mempunyai selera tinggi.

Layaknya tuan rumah dan tamu, Agam mempersilahkan Debrina duduk lalu menawari minum. Wanita itu menjawab jahe hangat, jawaban asal karena gugup, padahal ia tidak yakin minuman semacam itu ada di rumah seorang single seperti Agam.

Tak lama pemuda itu kembali dari dapur dan membawa secangkir minuman panas dan sekaleng bir.

‘Kletek.’

“Untukmu.” Katanya singkat, meletakkan cairan yg mengeluarkan uap panas di atas meja kaca. Debrina mengangguk, segera mengambil dan meminumnya. Ia pun berharap diracuni obat tidur oleh Agam lalu ditiduri seperti beberapa drama yang pernah Debrina tonton.

“Jadi sampai mana desain yang kau janjikan?” Tanya Agam setelah Debrina meletakkan cangkirnya kembali. Wanita itu mengangguk lalu mengeluarkan macbook kemudian menunjukkan lembaran desain pada Agam.

Disaat Agam meneliti desain tersebut Debrina tak henti menatap wajah Agam. Bukan karena takut desainnya akan ditolak, tapi sedang berpikir bagaimana ia memulai? Bagaimana cara merayu Agam?

“Aku tidak suka detail di pergelangan ini.” Kata Agam menunjukkan gambar mengagetkan Debrina yang tak fokus.

“Ba-bagaimana kalau diganti model serut saja?” Jawabnya gagap.

Agam terdiam menatapnya. “Mm..itu mungkin lebih baik.”

Dengan detak jantung tak menentu kemudian Debrina memperbaiki desain itu, sambil membicarakan beberapa hal. Namun dengan otak Debrina yang tidak sepenuhnya fokus beberapa kali ia membuat Agam mengerutkan dahi tak paham.

“Mm…Agam boleh aku meminjam toiletmu?” Tiba-tiba Debrina meminta ijin. Pria itu mengangguk, menunjukkan arahnya. Debrina segera pergi karena ia sedang mempunyai rencana.

Sepeninggal Debrina, Gasta sibuk memilah desain-desain lain pada laptop, namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara teriakan wanita.

“Kyaaaaaaaahhh!!!!”

‘Gubrak!”

Itu suara Debrina dari kamar mandi, Agam bergegas dan mengetuk pintu memanggil Debrina. Beberapa saat pintu dibuka, dan Agam kaget melihat baju Debrina basah kuyup. “Apa yang terjadi?” Tanya Agam bingung.

Wanita yang sekarang lebih mirip anak kucing itu menunduk “A-aku…terpeleset dan masuk ke dalam bath up.”

Lelaki itu menghela napas lega. “Kau ini.”

“Maaf, kalau tidak merepotkan bolehkah aku meminjam baju? i-ini sangat dingin.”

Dengan malas Agam berkata “Tunggu sebentar.”

Setelah kepergian Agam, Debrina tersenyum karena ini adalah bagaian dari rencananya. Ia bergegas melepas semua pakaian lalu melilitkan handuk di tubuhnya. Setelah ini ia akan memakai kaos kebesaran milik Agam tanpa dalaman, dan pasti pemuda itu akan segera memperkosanya.

‘Tuk.tuk.tuk.’ pintu diketuk.

Debrina cepat-cepat membuka pintu. Ia tersenyum malu-malu menemui Agam dengan penampilan yang sedikit seksi. Sedangkan pemuda itu terlihat sedikit kaget dengan pipi memerah melihat Debrina.

“Ma-maaf merepotkan karena harus meminjam bajumu.”

“Ini bukan bajuku.” Kata Agam menyodorkan bungkusan baju berwarna tosca lembut yang nampak baru. “Aku ingat masih menyimpan beberapa sample produkmu untuk dibawa ke Korea, jadi pakai saja.”

Mendengarnya Debrina ingin sekali mengubur diri hidup-hidup, dia sudah telanjang dan hanya memakai handuk tapi pria itu biasa saja? Malah memberinya pakaian tertutup seperti biasa?

Dengan berat hati Debrina menerima pakaian itu canggung, kembali ke kamar mandi dan merutuki diri sendiri.

Setelah mengalami kejadian memalukan itu Debrina pamit pulang karena waktu sudah menunjuk angka 22.03 malam.

“Terima kasih atas waktunya, Agam. Sampai jumpa lagi.” Katanya di depan pintu keluar dengan wajah layu. Agam hanya mengangguk lalu melihat Debrina mulai melangkah pergi.

Tapi kemudian Debrina berbalik, “A-agam, apa nanti aku boleh berkunjung lagi?”

Agam menautkan kedua alis.

“A-aku sedikit stress karena akan menikah, aku pikir aku butuh teman bicara. Karena aku tidak punya teman, a-aku ingin kita berteman.” Jawab Debrina. Sedikit aneh memang, tapi ia sudah berusaha.

Agam tersenyum samar. “Datanglah lagi.”

“Aah O-oke…” Debrina tersenyum canggung. Meski gagal ia pergi dengan perasaan senang.,,,,,,

PutriBokep

Create Account



Log In Your Account